Keagungan Wanita Dalam Naungan Islam



Ditengah gencarnya gelombang persamaan gender serta emansipasi, terutama pada bulan ini yang mereka mengenangnya sebagai sebuah sejarah perjuangan wanita. Tanggal 21 April dikenanglah nama seorang RA. Kartini dengan kumpulan suratnya: “Door Duisternis Tot Licth” yang terlanjur diterjemahkan oleh seorang sastrawan kafir Armin Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang nama ini semua dijadikan sebuah simbol perjuangan wanita untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang “terdholimi”.
Namun yang menjadikan kita harus mengurut dada, adalah celotehan kotor dari sebagian orang yang mengatakan bahwa agama Islam tidak menghormati wanita, dan beberapa hukum Islam mendholimi wanita. Fasubhanallah, tahukah mereka hakekat yang mereka ucapkan, ataukah ini hanya membeo pada ucapan orang-orang kafir barat yang memang sangat gencar menterang islam dengan berusaha memburukannya citra dan keagungannya.
Perhatikah wahai saudaraku, Islam datang untuk membawa rohmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman-Nya :


Dan tidaklah kami mengutusmu kecuali sebagai rohmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya [21]: 107)
Wanita adalah bagian utama dalam kehidupan di alam semesta, tidak akan baik sebuah kehidupan tanpa pengagungan dan penghormatan kepada mereka, lalu akankah Islam mendzoliminya? Tidak, wallohi tidak.
Dari sini marilah kita menelusuri bagaimana sebenarnya Islam memperlakukan kaum wanita, baik saat menjadi apapun dia saat masih seorang anak, menjadi ibu, menjadi saudara wanita, menjadi bibi atau lainnya.
Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq-Nya dan menghilangkan syubhat kotor yang terpolusi oleh hitamnya isu persamaan gender dan emansipasi.

SAAT MENJADI ANAK
Pada zaman Jahiliyyah, anak wanita benar-benar terhina, orang tua mereka tidak senang dengan kehadirannya bahkan mereka tega membunuhnya dengan menguburkannya hidup-hidup. Perhatikanlah gambaran qur’ani berikut :

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuannya, hitamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah hidup-hidup? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS.An Hal [16]: 58-59)
Al-Hafidl Ibnu Hajar menyebutkan, orang jahiliyyah saat mengubur hidup-hidup anak-anak wanitanya, mereka menggunakan dua cara:
Pertama: Dia memerintahkan istrinya apabila akan melahirkan supaya berada di dekat kubangan, lalu apabila yang lahir laki-laki maka dia membiarkannya, namun apabila perempuan maka segera dilempar ke kubangan tersebut.
Kedua: Ada sebagian lain, yang membiarkan anak wanitanya hidup sampai sekitar usia enam tahun, lalu saat itu dia berkata kepada istrinya: “Hiasilah dan berilah wewangian pada anak ini, saya akan ajak dia mengunjungi kerabat kita.” Ternyata anak tersebut dibawa ke tengah padang pasir sehingga sampai ke sebuah sumur, lalu dia berkata kepada anak wanita tersebut: Lihatlah ke dalam sumur ini.” Dan akhirnya dia mendorong anaknya sehingga jatuh ke dalamnya. (Lihat Fathul Bari 10/421)
Namun hal itu sangat berbeda dengan islam yang menganggap bahwa kelahiran seorang anak wanita adalah sebuah kenikmatan agung, dan Islam memerintahkan untuk memperhatikan serta mendidik mereka, dan Islam memberikan balasan besar bagi yang melakukannya.
Rasulullah SAW bersabda:



Dari Uqbah bin Amir berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang mempunyai orang anak wanita lalu sabar menghadapinya dan memberinya pakaian dari hasil usahanya, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari neraka.” (HR. Ibnu Majah: 3669, Bukhori dalam Adab Mufrod: 76 dan Ahmad 4/154 dengan sanad shohih, lihat Ash Shohihah: 294)


Dari Anas bin Malik berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Barang siapa yang memelihara dua anak wanita sehingga baligh, maka dia akan datang pada hari kiamat dan saat itu saya dan dia seperti ini.’ Lalu Rasulullah menyatukan antara jari-jari beliau.” (HR. Muslim 2631)
Dan pada riwayat lain dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah SAW bersabda:


“Barang siapa yang memiliki tiga anak wanita lalu memelihara, mengasih sayanginya dan menanggung hidupnya maka dia pasti masuk surga”. Lalu ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana kalau hanya dua?” Beliau menjawab: “Meskipun hanya dua.” Maka ada sebagian orang yang mengatakan bahwa seandainya mereka bertanya: “Bagaimana kalau hanya satu, niscaya Rasulullah akan menjawabnya: Meskipun hanya satu. (HR. Ahmad 3/303, lihat ash-Shohihah: 2679)

SAAT MENJADI IBU
Saat seorang wanita menjadi seorang ibu, syariat Islam benar-benar menghormati dan mengagungkannya. Hal ini sangat nampak sekali dengan wajibnya seorang anak berbakti kepada ibunya, berbuat baik kepadanya, larangan menyakitinya dengan cara apapun, mendoakan kebaikan baginya serta berbagai hal lain yang membawa kebahagiaan serta kehormatan dirinya. Salah satu gambarannya adalah firman Allah Ta’ala:

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknhya atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan ‘Ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Ya Allah, kasihanilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23-24).
Bahkan Islam lebih mendahulukan menghormati ibu daripada bapak. Sebagaimana hadits berikut :


Dari Abu Hurairah berkata: “Datang seseorang kepada Rasulullah lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk saya berbuat baik kepadanya?” Rasulullah menjawab: ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi: ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab: ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi: ‘Lalu siapa?’ Rasulullah kembali menjawab: ‘Ibumu,’ lalu dia bertanya lagi: ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab: ‘Bapakmu.”” (HR. Bukhori 5971, Muslim 2548)
Syariat Islam juga menjadikan berbuat bakti kepada orang tua termasuk diantara amal perbuatan yang paling mulia. Dan ini sangat jelas tergambar dalam beberapa hadits Rasulullah, di antaranya:


Dari Abdullah bin Mas’ud berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW: Amal perbuatan apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Rasulullah menjawab: “Sholat tepat pada waktunya.” Saya bertanya lagi: “Lalu apa?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Lalu apa lagi: “Jihad fisabilillah.”” (HR. Bukhori 5970, Muslim 85)
Islam juga menjadikan durhaka kepada keduanya termasuk dosa besar, sebagaimana sabda Rasulullah:



Dari Abdru Rohman bin Abu Bakroh dari bapaknya berkata: “Rasulullah bersabda: “maukah kalian saya junjukkan kepada perbuatan dosa yang paling besar?” para sahabat menjawab: “Wahai Rasulullah,” Beliau bersabda: “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” Dan saat itu duduk padahal sebelumnya bersandar: “Hati-hatilah kalian dengan sumpah palsu.” Rasulullah selalu mengulang-ulanginya sehingga kami mengatakan: Duh, seandainya beliau mau diam. (HR. Bukhori 5976, Muslim 87)

SAAT MENJADI ISTRI
Saat seorang wanita menjadi istri, syariat Islam pun sangat memperhatikan hak-haknya serta sangat menghargai dan menghormatinya. Diperintahkan seorang suami berbuat baik kepadanya, tidak menyakitinya, bersabar atas segala kekurangannya, berbuat baik kepada keluarganya, memberinya nafkah dengan cara yang baik, menjaga kehormatannya dan lain sebagainya.Cukuplah itu semua masuk dalam perintah Allah:


….Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik…. (QS. An-Nisa’ [4]: 19)
Dan perhatikanlah beberapa hadits berikut, niscaya engkau akan mengetahui bagaimana Islam sangat menghormati seorang istri.



Dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah bersabda: “Berbuat baiklah kalian kepada istri, karena dia diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, kalau engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya, jika engkau biarkan maka dia akan selalu bengkok, oleh karena itu berbuat baiklah kalian kepada para istri.” (HR. Bukhori 3331, Muslim 1468)
Dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah bersabda: “Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, sebaik-baik kalian yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Ahmad 2/250, Abu Dawud: 4682, Tirmidzi: 1162 dengan sanad shohih)
Dari Jabir bin Abdillah bahwasannya Rasulullah bersabda saat khutbah haji wada’: “Takutlah kalian kepada Allah tentang urusan istri kalian, karena kalian mengambilnya amanat dari Allah, dan kalian halalkan farjinya dengan kalimat Allah, maka hak kalian atas mereka adalah agar mereka kaum istri jangan mengizinkan orang yang kalian benci masuk rumah kalian, kalau sampai mereka melakukannya maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti, sedangkan hak mereka atas kalian adalah kalian berikan nafkah serta pakaiannya dengan cara yang baik.” (HR. Muslim 1218)

Dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah bersabda: “Janganlah seorang mu’min laki-laki membenci seorang wanita mu’minah, karena jika dia melihat ada akhlaknya yang tidak disenangi, niscaya dia akan menemukan akhlak lain yang dia senangi.” (HR. Muslim 1469)

SAAT SEBAGAI KERABAT
Saat seorang wanita menjadi kerabat, baik sebagai saudara perempuan, bibi, keponakan maupun saudara sepupu, maka syariat Allah dan Rasulnya pun tetap menghormati dan mengagungkannya.
Kaum muslimin diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka, diperintah untuk menyambung hubungan kekerabatan, menjaga hak-hak mereka serta lainnya. Perhatikanlah beberapa nash berikut :


Dari Miqdam bin Ma’diyakrib bahwasannya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu-ibu kalian (tiga kali), sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada bapak-bapak kalian, sesungguhnya Allah berwasiat untuk berbuat baik dengan keluar yang terdekat kemudian yang didekatnya lagi. (HR. Bukhori dalam Adab Mufrod: 60, Ibnu Majah: 3661 dengan sanad shohih, lihat ash-Shohihah: 1666)


Dari Abu Hurairah dari Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang masih punya hubunungan keluarga adalah kerabat erat dari Allah, maka Allah berfirman: Barang siapa yang menyambungmu maka Aku akan menyambungnya, dan barang siapa yang memmutuskanmu maka Aku akan memutuskannya.” (HR. Bukhori 5989, Muslim 2555)

SAAT MENJADI ORANG LAIN

Sampaipun saat seorang wanita hanya menjadi orang lain yang tidak mempunyai hubungan kekeluargaan dengannya, maka Islam masih sangat menghargai dan menghormatinya.
Sebagai sebuah gambaran mudah, Islam memerintahkan untuk memberikan bantuan saat ada seorang wanita yang membutuhkannya, sebagaimana sabda Rasulullah:

“Orang yang berusaha membantu para janda dan orang miskin maka dia berada di jalan Allah atau seperti orang yang sholat malam dan puasa siang hari.” (HR. Bukhori 6007, Muslim 2982)

Inilah sekelumit dari samudra keagungan wanita dalam naungan syariat Islam, lalu setelah ini semua, masihkah ada orang yang berani untuk mengatakan bahwa Islam mendholimi wanita dan tidak memberikan hak-hak mereka? Mudah-mudahan Allah tidak menjadikan kita sebagai orang yang buta hati dan akal. Wallohu a’lam.

*)Dari Majalah Al-Furqon

‘Aisyah Binti Abu Bakar


Obat Dari Atas Langit Yang Ketujuh


Beliau adalah guru bagi kaum laku-laki, Ash-Shidiqah putri dari Ash-Shidiq seorang khalifah Rasulullah SAW yang bernama Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin Amir, Al-Qursyiyah At-Taimiyah. Beliau adalah istri dari penghulu anak-anak Adam, wanita yang paling dicintai Nabi, putri dari laki-laki yang paling dicintai yang merupakan obat dari atas langit yang ketujuh.
Beliau telah membuktikan kepada dunia sejak 14 abad yang lalu bahwa merupakan perkara yang sangat mungkin apabila seorang wanita lebih pandai dari kaum laki-laki, baik dalam urusan politik atau bahkan siasat perang.
Wanita ini bukanlah merupakan alumnus dari suatu universitas, dan tidak pernah pula berguru kepada cendikiawan timur dan barat, akan tetapi beliau adalah seorang murid dan lulusan dari madrasah nubuwah, madrasah iman, dan madrasahnya para pahlawan. Semenjak masa kanak-kanak dia telah dididik oleh syaikhul muslimin dan yang paling utama diantara mereka,myakni bapaknya yang bernasma Abu Bakar Ash Shidiq. Menginjak usia remaja beliau telah dibimbing oleh Nabi umat ini yang juga gurunya, manusia yang paling mulia dan yang paling utama yakni Rasulullah SAW suaminya. Maka berkumpullah pada diri beliau antara ilmu, keutamaan dan bayan yang mana sejarah menjadikan beliau sebagai obat yang sangat dibutuhkan sepanjang masa. Begitulah jejak-jejak beliau dipelajari dalam kuliah adab sebagaimana pentingnya nash-nash tentang adab, dan itulah fatwa-fatwa beliau dibaca menjadi topik pembicaraan di setiap sekolah sepanjang sejarah Arab dan sejarah kaum muslimin.
Beliau dinikahi oleh rasulullah SAW atas perintah dari Allah Azza wa Jalla sebagai penghibur setelah wafatnya Khadijah. Rasulullah hendak menikahi Aisyiyah dan Saudah salam waktu yang bersamaan namun kemudian beliau menikahi Saudah terlebih dahulu hingga setelah selang tiga tahun beliau nikahi Aisyah pada bulan Syawal setelah perang Badr, maka berpindahlah walimatul ‘ursy yang sederhana ke rumah nubuwah yang baru. Yakni berupa sebuah ruangan di antara ruangan-ruangan lain yang didirikan di sekitar masjid terbuat dari batu bata dan beratap pelepah daun kurma. Rasulullah SAW menempatkan atas tidur dari kulit yang berserabut, tiada batas antara dirinya dengan tanah melainkan tikar, dan pada pintu masuk beliau tutup dengan tabir.
Di dalam rumah yang sederhana inilah Aisyah radialahu‘anhu memulai kehidupannya sebagai seorang istri secara syah yang akan dicatat oleh sejarah. Menjadi seorang istri adalah pekerjaan utama bagi wanita, dan sesungguhnya di antara tujuan utama seorang wanita adalah menjadi seorang istri dan seorang ibu. Hal itu tak dapat dielakkan sedikitpun sekalipun dia adalah seorang wanita yang memiliki harta sepenuh bumi, walaupun kehormatan dia melebihi awan, sekalipun dia telah mencapai puncak ilmu dan jabatan, maka sekali-kali tidak dapat melepaskan tanggung jawab tersebut dari lehernya, tidak akan bisa dia melepaskan tanggung jawab, dan tiada jalan bagi jiwanya untuk menyimpang darinya. Maka bagaimana mungkin akan bahagia seseorang yang menyimpang dari fitrah yang telah ditetapkan baginya?
Dalam kehidupan berumah tangga inilah Aisyah menjadi guru bagi setiap wanita di seluruh alam sepanjang sejarah. Beliau adalah sebaik-baik istri yang bergaul dengan suaminya, mendatangkan kebahagiaan di hati suaminya dan menyingkirkan apa-apa yang menyusahkannya di luar rumah berupa kesusahan hidup dan rintangan tatkala berdakwah di jalan Allah.
Beliau juga seorang istri yang paling baik jiwanya, pemurah, dan bersabar bersama rasulullah SAW dalam menghadapi kefakiran dan rasa lapar hingga beberapa hari lamanya tidak terlihat asap roti ataupun masakah. Beliau berdua hidup dengan hanya memakan kurma dan air.
Tatkala kemewahan dunia berpihak kepada kaum muslimin, pernah suatu ketika beliau diberi seratus ribu dirham sedangkan beliau dalam keadaan shaum dan beliau sedekahkan seluruhnya hingga tak ada suatu apapun dirumahnya. Salah seorang pembantunya berkata: “Jika masih ada maka belilah daging dengan satu dirham kemudian anda berbuka dengannya!” maka beliau menjawab, “Seandainya engkau berkata sejak tadi niscaya akan aku berikan.”
Kefakiran tidak membuat beliau berkecil hati, dan kaya tidak membuat beliau congkak. Beliau menjaga izzah jiwanya, sehingga menjadi remehlah dunia pada pandangan matanya, beliau tidak peduli apakah dunia di hadapannya atau di belakangnya.
Beliau juga merupakan istri terbaik yang memperhatikan ilmu dari rasulullah SAW, sehingga beliau pada puncak ilmu yang mana beliau menjadi guru bagi kaum laku-laki. Dan mereka menjadikan beliau sebagai rujukan dalam bidang hadits, sunnah dan fikih. Az-Zuhri berkata: “Seandainya ilmu Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu Aisyah lebih utama.
Hisyam bin Urwah menceritakan dari ayahnya yang berkata: “Sungguh aku telah bertemu dengan Aisyah, maka aku tidak mendapatkan seorangpun yang lebih pintar darinya tentang Al Qur’an, hal-hal yang fardhu, sunnah, sya’ir, yang paling banyak meriwayatkan, sejarah Arab, ilmu nasab, ilmu ini, ilmu itu dan ilmu kesehatan (kedokteran), maka aku bertanya kepada beliau, “Wahai bibi….. kepada siapa anda belajar tentang imu kedokteran?” maka beliau menjawab, “tatkala aku sakit, maka aku perhatikan gejala-gejalanya dan aku mendengar dari orang-orang menceritakan perihal sakitnya, kemudian aku menghafalnya.
Dari Al-A’masy dari Abu Adh-Dhuha dari Masruq, kami bertanya kepada Masruq, “Apakah Aisyah ahli dalam bidang fara’idh?” Maka beliau menjawab, “Demi Allah sungguh aku melihat para sahabat Rasulullah SAW yang terkemuka bertanya kepada beliau tentang fara’idh. Bersamaan dengan hal itu, beliau radhiallahu’anhu adalah seorang wanita yang memiliki ghirah, bahkan beliau adalah istri Nabi yang paling tinggi ghirahnya terhadap Nabi. Hal itu adalah merupakan tabiat seorang istri. Akan tetapi ghirahnya masih pada tempat yang semestinya tidak sampai melewati batas penyimpangan yang menimbulkan kemadharatan.
Di antara kejadian yang paling penting dalam kehidupan Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu’anhu adalah peristiwa tentang fitnah yang buruk dan keji terhadap beliau yang dikenal dengan “haditsul ifki” (berita dusta), padahal tuduhan tersebut sangat jauh dari beliau bahkan melebihi jauhnya antara langit dan bumi. Yakni langit yang darinya turun keputusan hukum tentang bebasnya beliau dari tuduhan keji tersebut yang mana ayat-ayat tersebut senantiasa kita baca dan bernilai ibadah dengan membacanya hingga hari kiamat. Ujian tersebut merupakan pelajaran yang berharga bagi wanita yang paling utama tersebut, dan juga berisi pengisian yang bermanfaat bagi setiap wanita.
Tatkala Rasulullah Saw sakit sepulang dari haji wada’ (haji perpisahan/terakhir), dan beliau merasakan telah usialah perjalanan beliau setelah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah, maka beliau berkata di saat istri-istri beliau mengelilingi beliau: “Di mana giliran saya untuk bermalam besok? …… dimana giliran saya besok lusa?” seolah-olah beliau merasakan lama sekali menanti giliran Aisyah. Maka hati para ummahatul mukminin semoga Allah meridhai menyadari bahwa Rasulullah ingin melewati sakitnya di tempat yang paling dia sukai. Maka mereka seluruhnya berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami telah menghadiahkan giliran kami kepada Aisyah.”
Sehingga berpindahlah kekasih Allah ini ke rumah istri yang dicintainya, sedangkan Aisyah senantiasa berjaga untuk merawat Rasulullah SAW yang sedang sakit dengan penuh kasih sayang walaupun harus ditebus dengan jiwanya, aku tebus dirimu dengan jiwaku, bapakku dan ibuku ya Rasulullah. Tidak beberapa lama kemudian Rasulullah SAW wafat sedangkan kepala mbeliau berada di pangkuan Aisyah.
Ummul mukminin Aisyah menuturkan saat-saat yang mengharukan tersebut: “Telah wafat Rasulullah SAW di rumahku, pada saat hari dan giliran beliau menginap di rumahku dan di atas pangkuanku. Ketika itu masuklah Abdurrahman bin Abu Bakar yang sedang membawa siwak yang masih basah, Rasulullah memandangnya seolah-olah menginginkannya, maka aku ambil siwak tersebut kemudian aku kunyak dan aku bersihkan kemudian aku hendak membersihkan gigi beliau SAW namun beliau menolaknya. Kemudian beliau membersihkan giginya dengan cara yang sangat baik yang aku belum melihat sekalipun yang lebih baik dari yang beliau kerjakan saat itu. Selanjutnya beliau mengarahkan pandangannya kepadaku dan meletakkan kedua tangannya sedangkan aku turut mendo’akan beliau sebagaimana do’a Jibril untuk beliau, begitupula Nabi berdo’a dengan do’a tersebut tatkala sakit. Akan tetapi beliau SAW tidak berdo’a dengan do’a tersebut. Pandangan beliau kembali mengarah ke langit kemudian bersabda: “Ar-Rafiiqul A’la, segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan diriku dengan dirinya pada hari terakhir kehidupannya di dunia.”
Rasulullah SAW dimakamkan di tempat dimana beliau wafat yakni di rumah Aisyah. Kemudian sisa-sisa hidup beliau radhiallahu’anhu beliau ini dengan mengajar para laki-laki dan wanita, dan turut mengisi lembaran sejarah hingga beliau wafat yang telah dinantikannya pada malam Selasa tanggal 17 Ramadhan tahun 57 Hijrah di saat beliau berumur 66 tahun.
Sepeninggal beliau lahirlah generasi-generasi yang senantiasa meneliti celah-celah kehidupan beliau semenjak berumur enam tahun hingga beliau sukses dalam tarbiyah dan berhasil meraih teladan terbaik yang tidak pernah ada lagi di dunia ini tokoh seperti beliau sejak empat belas abad lamanya.

Dari Buku : Mengenal Sahabiyah Nabi, Pustaka At Tibyan Solo

Ketika Aktivis Harus Jatuh Cinta


Oleh : Alifa El-Khansa

Ketika Harus Jatuh Cinta, Catatan Kecil untuk Para Aktivis Dakwah Sejati
(Part 1: Fenomena)
Dakwah bagaikan cahaya yang terpantul dari kedalaman senyawa dalam dada.
Cahayanya terpantul karena banyaknya kaca hati yang terserak, menyertai segenap duka yang terpupuk atas nama surga.
Semakin banyak kaca hati yang terserak mampu melunturkan waktu yang kian menipis di kisi-kisi senja. Berharap cepat kembali demi sebuah cinta.

Bagi seorang aktivis, dakwah merupakan sebuah jalan panjang menuju surga-Nya yang penuh onak dan duri. Tidak akan disebut berdakwah ketika seorang aktivis tidak menemui cobaan dalam berdakwah. Karena memang cobaan adalah bagian dari dakwah itu sendiri dan Allah akan selalu menguji kesungguhan hati orang-orang yang telah berani mengatakan bahwa mereka beriman.

Banyak aktivis yang telah berhasil melewati berbagai fase cobaan dalam rentang dakwahnya yang panjang. Aktivis ini telah membuktikan dirinya di hadapan kaum muslimin dan Rabb bahwa dengan keteguhan hati dan kesabarannya telah berhasil melakukan terobosan-terobosan dakwah yang penuh strategi dalam melawan kebatilan. Aktivis ini menjadi tumpuan dakwah di tempatnya berada karena dapat dipercaya dan amanah dalam melaksanakan berbagai agenda. Ia layak digelari mujahidullah peradaban karena mampu bertahan dengan cobaan dakwah yang menyangkut strategi dalam melawan kebatilan.

Tetapi seringkali aktivis itu tidak menyadari bahaya cobaan yang sedang menerpa hatinya. Hatinya yang rapuh sering tergelincir dengan cinta terhadap lawan jenis yang tumbuh dari kebersamaan mereka dalam dakwah yang panjang dan penuh cobaan. Ta'awun yang mereka lakukan seringkali menimbulkan benih-benih terpendam. Lalu diam-diam mereka pupuk di dalam hati hingga akhirnya bunga bermekaran di mana-mana. Sayangnya, bunga itu bukanlah bunga mawar yang indah... Bunga itu tumbuh bukan dari keimanan, melainkan dari pandangan mata dan nafsu yang pelan-pelan merusak hati lalu menggerogoti jiwa yang lemah. Jiwa itu kini menjadi rapuh, merusak seluruh niat yang tersampir di dada lalu akhirnya merobohkan sendi-sendi dakwah.

Walaupun begitu, sulit sekali untuk melepaskan ‘dia' yang telah bersemayam di dada, jauh melebihi Dia yang selama ini selalu bersama kita dengan penuh cinta. Bagaimana bisa melupakannya begitu saja? Ketika seorang aktivis dakwah telah terlalu lama menancapkan panah-panah pandangan mata ke arah ‘dia' yang tampak indah dengan segala gerik dakwahnya, sedangkan Dia-Rabb yang selalu ada untuk kita tak pernah sekalipun menampakkan wujud-Nya, tentu saja sosok'nya' jadi lebih bermakna. Kita takut tegas padanya karena sebelumnya telah terbayang wajahnya yang memelas. Kita jadi takut berbuat salah padanya karena telah terbayang wajahnya yang merah padam. Sekarang di dalam pikiran hanya ada wajahnya dimana-mana! Inilah bahaya kalau para aktivis mengurangi porsi ghadul bashar pada lawan jenis...

Lalu setelah berusaha ghadul bashar dan meluruskan niat lagi, datang cobaan dari lingkungan sesama aktivis dakwah. Yang anehnya lagi, lingkungan aktivis kadang malah mendukungnya. Mereka ucapkan kata-kata penggoda untuk membuatnya merasa bahwa sosok ‘itu' juga pantas disandingkan dengannya. Hati yang telah kokoh dibentengi keimanan kepada Allah itu akhirnya kandas juga dimakan api asmara yang datangnya dari sesama para aktivis dakwah. Terkadang lingkungan aktivis dakwah sekalipun juga dapat menjerumuskan ketika orang-orang yang ada di lingkungan itu sendiri kurang bisa menjaga hati dan pandangannya. Benar-benar cobaan yang dahsyat! Harapan dan kenyataan untuk menggapai surga-Nya telah terkotori oleh cobaan cinta dari lawan jenis yang tidak mampu dimaknai sesuai porsinya. Kini, yang tersisa hanyalah puing-puing dakwah yang terserak, roboh terkena badai cinta.

Ketika Harus Jatuh Cinta, Catatan Kecil untuk Para Aktivis Dakwah Sejati
(Part 2:Antara Kejujuran & Ketulusan)
Cinta... tiada satu pun di dunia ini yang menafikan karena cinta sendiri merupakan senyawa yang menjadi fitrah manusia sejak dia ada. Sekarang, permasalahan yang muncul adalah apakah kita bisa menumbuhkan benih cinta yang ada di dalam hati sesuai dengan porsinya? Apakah kita mampu mensinkronisasikan cinta dengan dakwah yang telah menjadi darah daging kita sendiri? Ataukah kita memisahkan cinta dengan dakwah lalu jatuh terluka karena telah mencabik-cabiknya dari nyawa? Kita letakkan harapan pada hamba, yang bahkan masih mengeja makna cinta. Sedangkan cinta hanya mau berharap pada Ilahi Rabbi-Tuhan yang telah menjadikannya ada.

Andaikan kita menjadi seorang aktivis yang telah jatuh cinta pada seorang pengemban dakwah lainnya, apakah kita adalah orang yang lantas tergelincir dari jalan dakwah ataukah kita mampu bertahan lalu menjaga cinta kita sebagai rahasia saja? Atau jangan-jangan kita biarkan cinta dan dakwah berjalan beriringan. Kita berjuang untuk Allah sekaligus untuk mendapatkan cinta dari aktivis dakwah lainnya juga. Padahal kita mengetahui hanya amal yang niat tulus karena Allah saja-lah yang diterima oleh Allah.

Wahai para pengemban risalah Allah, sadarlah... Hanya kejujuran dan ketulusan sajalah yang mampu mengalahkan semua niat yang telah ternoda di dalam dada. Ketika niat telah terkotori dan cinta telah berharap pada selain Allah, jujurlah pada Allah. Utarakan kepada Allah dengan sejujurnya keinginanmu yang sebenarnya. Jika ingin bersatu dengannya, mintalah... Pun ketika hati ini ingin diluruskan oleh Allah, dihilangkan bayang-bayang dirinya dari pikiran, maka mintalah... Jujurlah pada Allah... Kenapa kita harus menutupi hal yang tampak di hadapan-Nya?

Tulus dan jujurlah hanya kepada Allah-Rabb yang Maha Mengetahui segala isi hati. Karena hanya Allah saja yang mampu jujur dan tulus kepada kita. Bukan pendamping dakwah yang kita harapkan atau bahkan lingkungan yang mungkin juga sedang futur.

Lalu ketika Allah telah membalas kejujuran itu, maka saatnya untuk tulus kepada Allah. Tulus atas apapun keputusan Allah yang diberikannya kepada kita. Seandainya Allah mengabulkan doa-doa kita, anggaplah ini sebagai kado kecil dari-Nya karena kita telah jujur pada-Nya. Jika Allah mengizinkan kita bersatu dengan kekasih hati, maka tuluskan lagi niat kita hanya karena Allah. Maka insyaAllah perjalanan dakwah ini dengan kekasih hati akan lebih indah dan diridhoi oleh-Nya. Sedangkan bila Allah justru memisahkan kita dengan kekasih hati, maka kita juga harus berusaha tulus menerima segala keputusan Allah. Ini adalah keputusan terbaik dari Allah dan tiada yang bisa menandinginya. Yakinlah dengan keputusan Allah ini, maka insyaAllah penggantinya akan lebih baik dari apa yang selama ini kita bayangkan.

InsyaAllah dengan kejujuran dan ketulusan cinta ini maka aktivis dapat melangkah di jalan dakwah dengan keyakinan teguh dan kesabaran. Akivis menjadi insan yang istiqomah melangkah di jalan dakwah. Aktivis menjadi mujahid yang berhasil dari segi strategi dan segi kesucian cinta. Semoga kita semua menjadi aktivis yang mampu jujur dan tulus kepada Allah atas fitrah cinta yang telah menjadi senyawa dalam jiwa kita. Amin...

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda