KEMANDIRIAN KARAKTER WANITA

Allah SWT telah menciptakan satu makhluk yang paling sempurna diantara makhluknya yang lain, yaitu manusia. Diantara 2 jenis manusia yaitu laki-laki dan wanita Allah tidak membedakan akan amal dan ibadahnya. Untuk itu baik laki-laki maupun wanita masing-masing memiliki tanggung jawab pribadi akan kehidupannya kepada Allah SWT. Wanita muslimah khususnya memiliki karakter kemandirian dalam kehidupannya terkait dengan bahwa ia adalah hamba-Nya. Karakter kemandirian itu tercermin dalam shirah-shirah sebagai berikut:
1. Bersama Laki-laki Wanita Menerima Seruan Allah Sejak Hari Pertama
Abu Hurairah berkata: "Ketika Allah menurunkan ayat Wa andzir 'asyiaratakatul aqrabin (peringatkanlah kerabat-kerabatmu yang terdekat), Rasulullah saw. berdiri lalu berkata: 'Hai orang-orang Quraisy, belilah diri kalian, aku tidak bisa membantu kalian dari siksa Allah sedikit pun. Hai Bani Abdi Manaf, aku tidak bisa membantu kalian dari siksa Allah sedikit pun. Wahai Abbas bin Abdul Muttalib, aku tidak bisa membantumu dari siksa Allah sedikit pun. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah, aku tidak bisa membantumu dari siksa Allah sedikit pun. Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah sesukamu uang/hartaku, tetapi aku tidak bisa membantumu dari siksa Allah sedikit pun.'" (HR Bukhari dan Muslim).
Dari sekian banyak kaum laki-laki yang disebut maka Rasulullah pun menegaskan bahwa wanita mempunyai tanggung jawab pribadi atas dirinya kepada Allah dengan menyebut nama Fatimah binti Muhammad.
2. Wanita yang Lebih Dahulu Beriman daripada Suaminya
Abdullah bin Abbas berkata: "Aku dan ibuku termasuk golongan orang lemah/tertindas. Aku dari kalangan anak-anak dan ibuku dari kalangan wanita." (HR Bukhari) Dalam menguraikan bab ini Bukhari berkata: "Ibnu Abbas r.a. bersama ibunya termasuk di antara orang-orang yang lemah/tertindas. Dia tidak ikut bersama ayahnya dalam menganut agama kaumnya." Sementara Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan hadits tersebut sebagai berikut: "Nama ibunya Lubabah binti al-Harits al-Hilaliah (diberi gelar Ummul Fadhal, karena al-Fadhal adalah anak tertua dari keluarga Abbas). Kata-kata: 'Dia tidak ikut bersama ayahnya dalam menganut agama kaumnya,' adalah perkataan pengarang berdasarkan pengamatannya sebab Abbas masuk Islam setelah terjadinya Perang Badar. Namun pendapat ini masih dipertikaikan oleh para ulama. Yang benar adalah bahwa Abbas berhijrah pada awal tahun penaklukan Kota Mekah. Dia datang bersama Nabi saw., lalu ikut serta dalam penaklukkan tersebut." Wallahu a'lam.
Kamandirian wanita untuk menganut agama Islam sudah terbukti dengan tanpa suami mereka, pada awal dakwah Islam mereka mampu untuk memutuskan menganut Islam.
3. Wanita yang Mengajak Kaumnya Beriman
Imran bin Hushain berkata bahwa mereka pernah bersama Nabi saw. dalam suatu perjalanan :” ketika itu kami sudah merasa haus sekali. Tiba-tiba di tengah perjalanan kami bertemu dengan seorang wanita yang kedua kakinya terjuntai di antara dua girbah (gentong dari kulit) air besar (di atas tunggangannya). Kami bertanya kepadanya: "Dimana ada air?" Dia menjawab: "Aduh, tidak ada air." Kami bertanya lagi: "Berapa jauh jarak antara keluargamu dengan air?" Dia menjawab: "Satu hari satu malam (perjalanan)." Kami berkata: "Kalau begitu, pergilah temui Rasulullah saw.!" Wanita itu bertanya: "Apa itu Rasulullah?" Karena susah untuk menjelaskannya, akhirnya wanita itu kami bawa menghadap Rasulullah saw. Ketika ditanya oleh Nabi saw. jawabannya sama seperti apa yang dia katakan kepada kami sebelumnya. Cuma saja dia menambahkan bahwa dia menanggung beberapa anak yatim yang masih kecil-kecil. Lalu Nabi saw. memerintahkan untuk mengambil kedua girbah airnya yang masih kosong, kemudian mengusap mulut kedua girbah air tersebut. Akhirnya kami yang kehausan berjumlah empat puluh orang bisa minum sepuas-puasaya. Bahkan semua girbah dan bejana yang ada kami isi penuh dengan air. Hanya unta yang tidak kami beri minum. Sedangkan girbah-girbah air tersebut seakan mau meledak karena kepenuhan. Kemudian Rasulullah saw. berkata: "Kemarikanlah apa yang ada pada kalian." Akhirnya terkumpullah untuk wanita itu beberapa potong roti dan kurma hingga bisa dia bawa kepada keluarganya. Wanita itu bercerita (kepada kaumnya): "Aku bertemu dengan orang yang paling hebat sihirnya, atau dia itu adalah seorang nabi sebagaimana yang mereka katakan." Lalu Allah memberi petunjuk (hidayah) kepada kaum itu dengan (perantara) wanita tersebut. Akhirnya wanita itu dan kaumnya masuk Islam”.
Wanita-wanita dengan sifat kemandirian ini telah mengakui kebesaran Allah dengan bentuk keimanan dan ketaatannya. Islam yang samil dan mutakamil telah mengatur peran laki-laki dan wanita sesuai dengan kemampuan dan kesesuaian tempatnya, sehingga tidak ada pembedaan ketika penghisaban atas amal dan ibadanya di dunia sesuai dengan peran yang telah diberikan.(s3)

Kejujuran

Rasulullah SAW ditanya oleh seorang sahabat; "Mungkinkah seorang mukmin itu pengecut?"
"Mungkin," jawab Rasulullah.
"Mungkinkah seorang mukmin itu bakhil (kikir)?"
"Mungkin," jawab Rasulullah.
"Mungkinkah seorang mukmin itu pembohong?"
Rasulullah menjawab, "Tidak!"
Ulama besar dari Universitas al-Azhar Kairo, Sayid Sabiq (almarhum) ketika menukilkan hadis ini dalam bukunya Islamuna menjelaskan bahwa iman dan kebiasaan bohong tidak bisa berkumpul dalam hati seorang mukmin. Rasulullah SAW berwasiat agar umat Islam memiliki sifat jujur, dan menjauhi sifat pembohong. Islam tidak akan tumbuh dan berdiri kokoh dalam pribadi yang tidak jujur.
Kita baca sejarah pribadi besar Nabi Muhammad SAW, selama 40 tahun beliau menjadi pribadi yang jujur lebih dulu, hingga digelari al-Amin, baru kemudian diangkat menjadi utusan Allah untuk mengajarkan Islam kepada umat manusia.
Sabda Rasulullah SAW;
"Berpegang teguhlah dengan kebiasaan berkata benar. Sesungguhnya berkata benar mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Seseorang yang selalu berkata benar, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang benar. Dan jauhilah kebohongan. Sesungguhnya kebohongan mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan ke neraka. Seseorang yang biasa berbohong, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pembohong." (HR Bukhari dan Muslim).
Bohong dalam ucapan, kesaksian, pemberitaan, dan sebagainya merupakan salah satu tanda-tanda kemunafikan. Islam memandang kebohongan adalah induk dari berbagai dosa. Kebohongan akan menambah kerawanan-kerawanan dalam masyarakat.
Krisis multi-dimensional yang melanda negara kita muaranya adalah krisis akhlak. Salah satu bentuk krisis akhlak yang berdampak luas ialah krisis kejujuran. Mengamati perkembangan sosial, ekonomi, dan politik akhir-akhir ini, kita khawatir Indonesia tengah meluncur masuk kategori negara yang disebut zero trust society (menurut kategori Francis Fukuyama, 1995).
Krisis kejujuran menyuburkan praktik korupsi yang menggerogoti kehidupan kebangsaan, dari pucuk sampai ke akar, dari hulu sampai ke hilir. Karena kepandaian membohongi dan membuat lingkaran kebohongan, maka perbuatan korupsi, kolusi, suap, dan pungli makin merebak dan sulit dibuktikan.
Kebohongan tidak jarang membuat campur-aduknya antara yang haq dan yang bathil. Sesuatu yang bathil bisa tampak seolah sebagai kebenaran karena kepandaian membuat rekayasa dan kamuflase.
Firman Allah;
"Ketahuilah, laknat Allah atas orang-orang yang dusta." (QS Ali Imran: 61).
Rasulullah SAW mengingatkan;
"Berkata benar membawa ketenteraman, sedang berbohong menimbulkan ketidak-tenangan."
Mari kita tegakkan kejujuran dan berhenti membohongi diri sendiri atau orang lain. Kejujuran bukan sekadar slogan dan retorika, tapi harus menjadi karakter dan kultur masyarakat. Perbaikan moralitas umat dan bangsa hanya dapat terwujud kalau para pemimpin dan segenap elemen bangsa konsisten dengan prinsip kejujuran. Agama menyuruh kita berlaku lurus dalam ucapan dan perbuatan.
Allah SWT mengingatkan;
"Hai orang-orang beriman, takutlah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (QS At-Taubah: 119).[sumber : Republika]

Apa sich keuntungan orang berprestasi?

Tahukah kamu betapa tingginya derajat orang yang berprestasi dihadapan Alloh? Pada surat Al Mujadalah ayat 11 menjelaskan derajat orang yang berilmu, artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Begitu pentingnya derajat orang yang beriman, kata pertama dalam ayat pertama yang Alloh turunkan kepada manusia adalah perintah untuk menuntut ilmu dengan membaca. Jadi sobat, apa kamu mau jadi orang yang tinggi derajatnya disisi Alloh? Kalau mau mulailah dari sekarang untuk rajin membaca. Karena dengan membaca kita akan mendapatkan banyak pengetahuan yang belum kita ketahui.
Dalam sebuah hadits juga menjelaskan tentang kedudukan orang yang menuntut ilmu, “dari Abu Darda r.a berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘siapa yang bepergian untuk menuntut ilmu Alloh akan memudahkan jalan ke surga. Sesungguhnya para maikat merendahkan sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu pengetahuan sebagai bukti keridhaan atas apa yang diperbuat oleh orang yang menuntut ilmu. Semua makhluk yang ada di langit dan bumi hingga ikan dan air niscaya memintakan ampunan kepada orang yang ‘alim. Sesunggguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang memanfaatkan kesempatan ini berarti dia mengambil bagian yang sempurna’.” (HR At Turmudzi dan Abu Daud)
Itu sebagian keuntungan bagi orang yang menuntut ilmu. Alloh akan meninggikan derajatnya, dimudahkan jalan ke surga, para Malaikat meridhainya dan semua makhluk juga memintakan ampunan untuknya. Itu baru kalau ditinjau dari segi agama, kalau mau kita lihat dari segi dunia akan lebih banyak lagi. Contohnya aja, kamu bisa dapet bea siswa, trus kamu akan dihormati dan disegani dengan orang-orang disekitar kamu.
Siapa yang gak mau kalau keuntunganya begitu besar? Kamu mau? Maka tuntutlah ilmu.Rah

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda